Header Ads

twitter

Tentang Mencintai Yang Beda Tipis Dengan Sendal Jepit

Hasil gambar untuk sandal jepit cinta
petanikopi.com / image from : aminoapps.com


Dulu saat masih duduk di bangku sekolah, Manto sering berbagi cerita dengan teman, tentang bagaimana pacar dia dan sebaliknya. Yang awalnya kadang sedikit curhat ini-itu tentang pacar masing-masing dan saling memberi solusi yang zupperrrrr tidak menyelesaikan masalah, berlanjut membicarakan gadis bidadari sekolah (lebih banyaknya), adik-adik imut yang ngegemezzin(sebenarnya pengen dipacarin), sampai artis. Atau yang bisa sampai ke yang lebih nyeleneh dan terlalu ehem untuk dibahas.

Semua dibahas, bila ada unsur cantiknya. “ngeri memang manto ini..!”

Meski sedikit banyak. Banyaknya bukan membahas pacar atau memperhatikan pacar, tapi ia cukup setia. Ya, setia kalo lagi di hadapannya, “kalo meleng dikit trus lihat yang bening? jangan.!! Jangang Cuma di lihatin maksudnya”.

 Manto anak yang rajin, setiap jum’at ia pergi ke masjid, berangkat awal, duduknya di shaf paling depan(bukan depan masjid) dan terlihat memiliki kesan khusu’ saat mendengar khutbah jum’at, pakaian yang ia gunakanpun semua yang terbaik yang ia punya, dari ujung kepala samapai ujung kaki.

Sholat jum’at usai, ia membantu marbot masjid merapikan ambal dan membersihkan sekitaran ruang masjid. Hal seperti itu sudah menjadi rutinitas baginya, melakukannya dengan senang hati diiringi canda tawa yang sudah menjadi cemilan antara Manto dan marbot masjid. Saat ia akan berpulang, ia menemukan sandal jepitnya telah tiada, bahkan satu sendalpun tidak tersisa, keccuali milik partner-nya itu.

Disuatu kesempatan, ia pulang lebih cepat dari yang lain dan bisa dibilang tidak ikut wirid, itu demi sendal jepit sepuluh ribu kesayangannya itu. Didepan pintu bejejer sendal yang berwujud sama dengan miliknya dulu, Manto  terlihat bingung. Awalnya ia sedikit tergoda dengan sendal yang bersih dan mulus, namun setelah mencoba, ia fikir itu tidaklah baik untukunya. Ia tahu, sendal jepitnya bukanlah sendal baru seperti apa yang ada di kakinya itu.

Setelah mencicipi satu persatu, Manto akhirnya menemukan sendal tercinta, yaitu sendal paling jelek diantara semua sendal yang terpampang di masjid. Setelah ia merasa benar-benar cocok, dikenakanlah sendalnya itu, kemudaian ia pulang dengan penuh rasa bahagia.

------000000------

Pada pagi sebelum Jum,at, saat Manto sarapan, ia berdebat keras dengan istrinya, karena ia sangat yakin dapat menemukan sendalnya itu. Padahal istrinya sudah memintanya untuk membeli sendal baru, agar tidak dikhawatirkan kalau-kalau Manto salah membawa sandal orang. Tapi ia masih bersikukuh dengan pendiriannya.

Manto yang masih memegang teguh pendiriannya itu, benar-benar tidak menggbris apa yang dikatakan istrinya. “aku dan sendalku itu udah kayak cinta yang menyatu”, tuturnya membela. “walaupun seminggu, dua, tiga atau bahkan setahun aku akan tetap tahu mana letak cintaku itu.
“yang kanan dan yang kiri itu memiliki beberapa filosofi buat aku ti...” jelas manto pada manti, kemudian.
“pertama, kanan dan kiri itu memang tidak menyatu, tapi bila mereka digunakan bersamaan, maka mereka akan berubah menjadi Sepasang”.
“kedua, kanan dan yang kiri tetaplah harus sama, ini gambaran sebuah kesetiaan karena keselarasan warnanya”.
“ketiga.....”
“udah lah mas, terserahmu. Aku capek ngasih taunya”. Manti yang cukup kesal dengannya.(sedikit bocoran, Manti adalah pacar SMA Manto yang ternyata juga tulang rusuknya). “awas nanti kalo gak bawa pulang sendal atau salah bawa sendal orang..!!” Manti cukuip serius kali ini.

------000000------

Senyum bahagia saat itu terpancar jelas dari raut muka Manto, ia merasa telah bertemu dengan apa yang dicarinya selama ini. “sendal tercinta telah kembali”. Manto sungguh tak sabar untuk menujukkan apa yang ia dapatkan itu pada istrinya.

Sesampainya dirumah, Manto langsung saja memanggil istri tercinta, hanya untuk membuktikan bahwa ia telah berhasil.
“dek, aku bawa pulang sendalku! Dek...! dek...!”, Manto girang, merasa menang.
“oh... kamu ngotot bilang bakal bawa pulang sendalmu, trus ngotot pake filosofi-filosofi itu Cuma mau ngasih tau aku kalo kamu sedang selingkuh, gitu...??”.
“Apa..?? maksudmu apa to dek?”, kemudian Manto memperhatikan sendalnya,” ehh... buubuu..bukan itu maksudku dek...”.
“alah sekarepmu mas...” Manti berlalu kekamar berlinang air mata.
“eh... dek....! bukan itu dek....”

Usut punya usut ternyata Manto memakai sendal tak sama, ia lupa melepas sendal yang dicobanya di kaki kirinya, karena kegirangan saat menemukan sendalnya yang di cobanya di kaki kanan.

“ngasu.....!!! sedal jepit kurang ajar.....!!!”


 Oleh : Fauzan (man jadda wajada) masih jomblo juga




  •  BACA JUGA



Comments

Tidak ada komentar